Pengakuan dan Penyangkalan: Penelitian Mahasiswa Sosiologi UNS Ungkap Stigma dan Diskriminasi terhadap Penghayat Kepercayaan di Solo Raya

Surakarta – Keberagaman merupakan salah satu fondasi utama kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah semangat kebhinekaan yang terus digaungkan, nyatanya masih terdapat kelompok masyarakat yang menghadapi tantangan dalam memperoleh penerimaan sosial secara penuh. Salah satunya adalah komunitas penghayat kepercayaan yang hingga kini masih berhadapan dengan berbagai bentuk stigma dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Program Hibah Pembelajaran Berdampak Tahun 2026.

Penelitian yang dilakukan berjudul “Pengakuan dan Penyangkalan: Stigma dan Diskriminasi Penghayat Kepercayaan dalam Relasi Sosial di Wilayah Solo Raya” dilaksanakan pada Maret–Juni 2026 di wilayah Solo Raya yang meliputi Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten Klaten. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk stigma dan diskriminasi yang dialami penghayat kepercayaan, memahami faktor-faktor yang melatarbelakanginya, serta mengkaji strategi yang dilakukan komunitas penghayat kepercayaan dalam membangun relasi sosial yang inklusif di tengah masyarakat yang majemuk. Tim peneliti beranggotakan Kevin Avrilsyah Aziz, sebagai ketua tim bersama Fonita Intan Kumara, Kania Dini Pratiwi, Keisya Na’ila Kamilah, Mariana Dinda Saputri, Miftakhul Jannah, Muhammad Ibrah Yahya Al Mustaqim, Nadia Reivani Rosalba, dan Nanda Nur Aisyah. Seluruh anggota tim berada di bawah bimbingan Theofilus Apolinaris Suryadinata, S.Fil., M.A selaku dosen pembimbing.

Penelitian ini bekerja sama dengan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) DMD Kota Surakarta sebagai mitra. Kolaborasi tersebut memungkinkan tim peneliti memperoleh akses yang lebih luas untuk memahami kondisi aktual penghayat kepercayaan di wilayah Solo Raya sekaligus membangun dialog yang lebih mendalam dengan komunitas yang menjadi subjek penelitian. Solo Raya dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki sejarah panjang keberadaan komunitas penghayat kepercayaan serta karakteristik budaya Jawa yang masih kuat. Kawasan ini menjadi ruang hidup bagi berbagai kelompok penghayat kepercayaan yang telah lama berdampingan dengan masyarakat yang didominasi pemeluk agama-agama resmi. Jika kita telusuri lebih dalam, berbagai tantangan sosial masih dihadapi oleh kelompok ini dalam proses interaksi sosial mereka

Tim peneliti melakukan wawancara terhadap satu pengurus MLKI, enam penghayat kepercayaan, serta enam tokoh agama yang berinteraksi secara langsung dengan mereka. Wawancara ini dilakukan guna memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai pengalaman sosial yang dialami penghayat kepercayaan di Solo Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghayat kepercayaan masih sering menerima stigma negatif dari sebagian masyarakat. Mereka kerap dianggap berbeda dari kelompok mayoritas dan tidak jarang dikaitkan dengan berbagai asumsi yang tidak sesuai dengan realitas ajaran maupun praktik kepercayaan yang mereka jalankan. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai keberadaan dan nilai-nilai yang dianut oleh penghayat kepercayaan menjadi salah satu faktor utama yang melatarbelakangi munculnya stigma tersebut. Di sisi lain, hasil penelitian juga menjelaskan bahwa stigma dapat berkembang menjadi tindakan diskriminatif yang memengaruhi kehidupan sosial penghayat kepercayaan. Beberapa informan mengungkapkan pengalaman berupa penolakan sosial, pembatasan partisipasi dalam kegiatan masyarakat, kesulitan memperoleh pengakuan identitas, hingga hambatan dalam menjalankan aktivitas kepercayaan. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun penghayat kepercayaan telah memperoleh pengakuan secara hukum, penerimaan sosial di tingkat masyarakat masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian bersama.

Selain menghasilkan temuan akademik, penelitian ini memberikan dampak nyata bagi mahasiswa dan masyarakat. Bagi mahasiswa keterlibatan dalam penelitian lapangan menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai keberagaman sosial, toleransi, serta pentingnya pendekatan humanis dalam memahami kelompok-kelompok yang selama ini kurang mendapatkan ruang dalam diskursus publik. Bagi komunitas penghayat kepercayaan, penelitian ini menjadi wadah untuk menyuarakan pengalaman dan perspektif mereka kepada publik secara lebih luas. Kegiatan penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui upaya mendorong penerimaan sosial terhadap kelompok minoritas, SDGs 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan nilai keadilan sosial dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil. Keterkaitan antar SDGs tersebut menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat inklusif memerlukan sinergi antara pendidikan, pengurangan kesenjangan sosial, penguatan institusi, dan kemitraan lintas sektor.

Dosen pembimbing penelitian, Theofilus menyampaikan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menghasilkan dampak sosial yang nyata.

“Melalui penelitian ini mahasiswa belajar memahami realitas sosial secara langsung sekaligus mengembangkan kepekaan terhadap kelompok-kelompok yang sering mengalami marginalisasi. Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik sekaligus bahan refleksi bagi masyarakat untuk membangun kehidupan sosial yang lebih inklusif,” ujarnya.

Kedepannya, tim peneliti berencana menyusun publikasi ilmiah serta memperkuat kolaborasi dengan MLKI dan berbagai pemangku kepentingan lainnya guna mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai penghayat kepercayaan. Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal dalam merumuskan program-program yang mendukung penguatan toleransi dan inklusivitas sosial khususnya di wilayah Solo Raya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya dipandang sebagai realita yang harus diterima, melainkan juga nilai yang perlu terus dirawat melalui penghormatan terhadap perbedaan.